Pendidikan

Soal Belajar Daring, Kemendikbud RI Dorong Pemerataan Akses Internet

Kamis, 13 Agustus 2020 - 16:51
53.53k
Soal Belajar Daring, Kemendikbud RI Dorong Pemerataan Akses Internet M. Hasan Chabibie dalam sebuah webinar pendidikan. (FOTO: Kemendikbud)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di tengah upaya peningkatan pembelajaran online atau belajar daring, keterbatasan akses internet dan listrik di beberapa kawasan menjadi kendala tersendiri. Untuk itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) mendorong pemerataan akses internet dan listrik.

Hal ini disampaikan Plt. Kepala Pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI M. Hasan Chabibie, kepada media ini, Kamis (13/08/2020). Hasan menjelaskan, pemerataan akses listrik dan internet sangat penting untuk menunjang penigkatan kualitas pembelajaran daring.

Hasan-Chabibie-6.jpg

"Kondisi demografis kita yang luar biasa besar, dengan sekian ribu pulau dan sekian ratus kabupaten/kota, dengan tingkat partisipasi hampir 60 juta orang terlibat dalam dunia pendidikan kita, yang pada hari ini benar-benar terdampak karena faktor pandemi ini," ungkap Hasan Chabibie, yang juga Plt. Ketua Umum Mahasiswa Ahlut Thariqah an-Nahdliyyah (MATAN).

Lebih lanjut, Hasan menjelaskan bahwa ada beberapa kawasan yang mesti mendapat sentuhan akses listrik dan internet.

"Dengan posisi kita di kepulauan, jangankan kita bicara internet di kepulauan, kadang-kadang kita di Jakarta saja, kita masuk kawasan basement, internetnya hilang. Belum lagi nanti kita bicara internet di beberapa daerah yang berada di remote area, yang menurut data di kami, penetrasi internet di dunia pendidikan kita itu baru 81 persen," jelasnya.

"Akan tetapi, data itu kita cek ulang ke teman-teman Kominfo. Mungkin, yang benar-benar tersisa itu ada sekitar 12-13 ribu sekolah, yang mirip data Kemendagri, yang memang di titik itu tidak ada koneksi listrik dan internet," demikian ungkap Hasan

Sementara, Hasan Chabibie menambahkan, kita sama-sama tahu, bahwa negara wajib hadir. Bahwa siapapun itu, warga dari Sabang sampai Merauke berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dan memperoleh layanan pendidikan yang ada di Indonesia.

"Sekali lagi memang, kita terkendala hal-hal yang sifatnya infrastruktur. Baik internet, listrik, dan sebagainya. Sekolah yang tidak ada internetnya itu sekitar 8500 sekolah di seluruh Indonesia," terangnya.

Karenanya, penulis buku Literasi Digital itu menjelaskan, ketika melakukan proses belajar dari rumah selama empat bulan terakhir ini, kami memperoleh banyak sekali masukan. Bahwa ketidakmerataan infrastruktur ini menjadi hambatan bahwa proses pendidikan jarak jauh, atau belajar dari rumah itu bisa efektif dilaksanakan.

"Sehingga ikhtiar kemudian kita laksanakan secara terus menerus, mencari solusi yang terbaik serta yang murah. Karena, kalau kita bicara internet kuota, sekali lagi publik akan berhadapan pada isu mahalnya paket data yang itu tidak secara merata semua tingkat ekonomi di Indonesia bisa menggapainya," ia menjelaskan.

Di sisi lain, Kemendikbud juga mendorong akses tayangan televisi untuk menjangkau kawasan-kawasan yang susah sinyal internet, atau bagi mereka yang keberatan dengan biaya kuota internet. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan dorongan bahwa televisi bisa menjadi alternatif.

"Televisi merupakan solusi untuk memenuhi permintaan dalam menyediakan sumber belajar bagi mereka yang memiliki koneksi internet terbatas. Dan ini sesuai dengan misi kami yakni Merdeka Belajar," jelas Nadiem.

Terkait dengan proses belajar daring tersebut, Pusdatin Kemendikbud RI juga telah mendorong kolaborasi dan kerjasama dari pelbagai pihak,terutama soal pemerataan akses internet dan listrik. (*)

Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Makassar just now

Welcome to TIMES Makassar

TIMES Makassar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.