TIMES MAKASSAR, MAKASSAR – Tim SAR gabungan kembali menemukan potongan tubuh korban ketiga dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT). Temuan tersebut didapatkan saat operasi pencarian di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026).
Kepala Basarnas, Marsda TNI Mohammad Syafii, mengatakan potongan tubuh korban ditemukan sekitar pukul 12.30 Wita oleh tim yang menyisir area lereng gunung dan jurang terjal.
“Sudah tiga korban yang ditemukan. Namun, untuk jenis kelamin belum bisa dipastikan karena yang ditemukan berupa bagian tubuh,” ujarnya di Kantor Basarnas Kelas A Makassar.
Menurut Syafii, hampir seluruh operasi pencarian dilakukan di medan ekstrem berupa tebing dan jurang, sehingga proses evakuasi membutuhkan waktu dan kehati-hatian tinggi. Saat ini, potongan tubuh korban masih dalam proses evakuasi menuju titik kumpul tercepat di Dusun Lampeso, Kabupaten Maros.
Sebelumnya, satu jenazah korban berjenis kelamin laki-laki telah berhasil diidentifikasi atas nama Deden Maulana. Identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan post mortem dan ante mortem oleh tim DVI Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Posko DVI Jalan Kumala, Makassar, Rabu malam.
Korban diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi penumpang pesawat nahas tersebut. Setelah proses identifikasi selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga dan selanjutnya diberangkatkan ke Jakarta melalui Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk dimakamkan.
Jenazah Deden Maulana ditemukan lebih dahulu oleh tim SAR gabungan pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 14.20 Wita di lereng Gunung Bulusaraung dengan kedalaman sekitar 300 meter.
Proses evakuasi jenazah sempat terkendala cuaca buruk, hujan lebat, kabut tebal, serta medan curam, sebelum akhirnya berhasil dievakuasi menggunakan helikopter Basarnas dengan metode hoist.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris sebelumnya menjelaskan, proses identifikasi korban memerlukan ketelitian tinggi dan bergantung pada kondisi jenazah. Jika sidik jari masih dapat diperiksa, identifikasi bisa dilakukan lebih cepat. Namun, bila tidak memungkinkan, tim harus menggunakan metode pembanding lainnya.
“Sangat sulit memang, tapi kami mengutamakan ketepatan, bukan kecepatan, karena identifikasi ini harus benar-benar pasti,” tegasnya.
Sementara itu, setelah lima hari pencarian intensif, tim SAR gabungan juga berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 tersebut. Perangkat penting itu ditemukan di area badan dan ekor pesawat di tengah medan hutan lebat, tebing curam, serta cuaca yang cepat berubah.
Black box yang ditemukan terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Kepala Basarnas Mohammad Syafii memastikan kedua perangkat tersebut telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kepentingan investigasi.
“Data dalam black box sangat penting untuk mengungkap kronologi dan penyebab kecelakaan secara menyeluruh,” ujarnya.
KNKT selanjutnya akan melakukan analisis mendalam terhadap data penerbangan dan rekaman percakapan kokpit guna memastikan faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan pesawat di kawasan pegunungan Bulusaraung tersebut. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: SAR Temukan Korban Tambahan dan Black Box Pesawat ATR yang Jatuh di Bulusaraung
| Pewarta | : Joko Wiyono |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |