TIMES MAKASSAR, JAKARTA – Menteri PU (Pekerjaan Umum), Dody Hanggodo meminta maaf kepada masyarakat bila penanganan bencana Sumatera dinilai lamban dan tak seperti yang diharapkan. Hal tersebut disampaikan saat acara Media Brifing di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2026) siang.
"Kalau bicara soal kecepatan penanganan, sebelumnya saya mohon maaf apabila kami belum secepat yang diharapkan oleh masyarakat," kata pria yang mengenakan songkok hitam, baju batik dan sarung batik tersebut.
Dalam acara lesehan ini, Dody mengakui bahwa saat ini pemerintah sedang kesulitan untuk pengadaan alat berat dalam menyelesaikan persoalan material seperti kayu yang masih berserakan di wilayah bencana tersebut.
"Soal alat berat, memang harus diakui masih kurang. Terutama untuk pembersihan rumput dan material," jelas jebolan ITB ini.
Meski demikian, kata dia, masyarakat harus mengetahui bahwa pemerintah dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saat ini terus berikhtiar menyelesaikan dalam proses pemulihan pasca bencana di Sumatera ini.
"Bukan berarti kami tidak berupaya. Kami tetap bekerja di lapangan dan terus berusaha menyelesaikan pekerjaan. Sekali lagi saya mohon maaf jika penanganannya terasa lambat," katanya.
"Namun bukan berarti kami berleha-leha. Kami bekerja siang dan malam. Semua ini juga karena arahan Bapak Presiden yang terus memantau hampir setiap saat. Tidak ada ruang untuk bekerja santai," tambahnya.
Saat ini, lanjut pria asal Mojokerto, Jawa Timur tersebut, pihaknya sedang berpacu dengan waktu agar di Bulan Ramadan 2026 ini tidak ada masyarakat yang masih di pengungsian.
"Kami berharap saat Ramadan tiba, tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan ibadah dengan tenang dan maksimal. Karena itu pula, pembangunan fasilitas pendukung seperti sumur terus kami dorong agar segera selesai," ujarnya.
Sekadar informasi, per hari ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melaporkan ada 1.190 korban meninggal akibat bencana Sumatera tersebut.
Lembaga ini juga melaporkan masih ada 141 orang yang dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi di tiga provinsi saat ini berjumlah 131.500 orang. Tiga daerah paling banyak pengungsi, yaitu Aceh Utara sebanyak 54.800 orang, Bireuen 13.900 orang, dan Pidie Jaya 11.800 orang.
Bencana ini juga menyebabkan 170.050 rumah rusak. Rinciannya 53.412 rusak berat, 45.085 rusak sedang, dan 76.553 rusak ringan. Sementara itu, sebanyak 215 fasilitas kesehatan masih rusak, 3.188 fasilitas pendidikan rusak, 803 rumah ibadah rusak, dan 776 jembatan terdampak. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Menteri PU Meminta Maaf Jika Penanganan Bencana Sumatera Dinilai Lamban
| Pewarta | : Moh Ramli |
| Editor | : Ronny Wicaksono |