Menteri LH Ungkap Dilema Penanganan Sampah Laut: Biaya Mahal dan Risiko Polutan
Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Hanif Faisol Nurofiq di Makassar. (Foto: ANTARA/Nur Suhra Wardyah)

Menteri LH Ungkap Dilema Penanganan Sampah Laut: Biaya Mahal dan Risiko Polutan

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan tantangan besar dalam menangani sampah laut Indonesia. Mulai dari biaya tinggi hingga risiko zat berbahaya dioksidifuran.

TIMES Makassar,Minggu 5 April 2026, 14:26 WIB
294
A
Antara

MAKASSARMenteri Lingkungan Hidup (LH) RI, Hanif Faisol Nurofiq, mengakui bahwa penanganan sampah di wilayah laut dan kepulauan Indonesia menghadapi tantangan besar. Luasnya wilayah perairan serta tingginya biaya operasional menjadi kendala utama dalam proses pembersihan.

"Kalau sudah di laut (sampah), ini urusannya jadi mahal dan tidak karu-karuan. Di insinerator tidak bisa, di ini tidak bisa, karena ada kandungan garamnya yang menyebabkan dioksidifuran, yang cukup potensial muncul saat dibakar," ujar Hanif saat memberikan keterangan di Makassar, Minggu (5/4/2026).

Hanif menjelaskan bahwa mayoritas sampah laut berasal dari daratan yang terbawa arus akibat belum maksimalnya pengelolaan sampah di hulu. Berdasarkan data nasional, saat ini baru sekitar 25 persen sampah yang berhasil diolah. Sementara itu, 60 persen sampah berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan 40 persen sisanya masih terbuang di lingkungan hingga akhirnya bermuara ke laut.

"Bapak Presiden meminta sampah di darat selesai pada 2029. Sementara capaian sampah nasional hari ini baru 25 persen yang diolah. Jadi, masih ada 75 persen yang harus kita kejar dalam tiga tahun terakhir ini. Nah, ini kita akan fokus dulu di darat untuk kemudian menangani sampah di laut," tuturnya.

Lebih lanjut, Hanif menegaskan bahwa persoalan sampah laut bukan hanya tanggung jawab kementeriannya, melainkan menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektoral untuk menangani masalah yang krusial ini.

"Sampah laut ini tidak bisa dibebankan kepada Bapak Gubernur maupun Bupati/Wali Kota saja. Jadi, kami akan melakukan langkah-langkah penanganan yang paling krusial, contohnya di Bali," jelas Hanif.

Ia mencontohkan penanganan di Bali, di mana sampah laut sering terjebak dalam pusaran arus pada periode September hingga Februari. Dalam kurun waktu tersebut, pihaknya melakukan penanganan intensif dengan melibatkan berbagai jajaran, termasuk dukungan dari TNI dan Polri.

Saat ini, Kementerian Lingkungan Hidup tengah mematangkan strategi nasional untuk mengatasi persoalan ini secara berkelanjutan.

"Kita sebenarnya sudah punya tim nasional penanganan sampah laut. Tapi, memang sangat luasnya laut kita, sehingga memang perlu dukungan serius dari para gubernur," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Antara
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Makassar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.