Kopi TIMES

Literasi Teknologi sebagai Ruang Perjuangan Pemuda

Senin, 10 Agustus 2020 - 18:34
83.58k
Literasi Teknologi sebagai Ruang Perjuangan Pemuda Habibah Auni, Mahasiswa Teknik Fisika UGM. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Sumpah pemuda adalah salah satu pilar utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Lihat saja, bagaimana perjuangan pergerakan pemuda dalam menyongsong kemerdekaan ini, diabadikan dalam tanggal nasional. Buktinya setiap tanggal 28 oktober, momen bernama “Hari Sumpah Pemuda” ini selalu diperingati. Sumpah pemuda ini, sudah seharusnya kita renungkan sebagai pengingat betapa heroiknya perjuangan para pahlawan.

Oleh karena itu, sumpah pemuda seyogyanya dikenang sepanjang masa dan tidak terkekang oleh waktu. Dengan cara merawat ingatan akan sejarah sumpah pemuda. Agar perjuangan para pemuda dahulu tidak sia-sia, maka pemuda sekarang mau tidak mau wajib melanjutkan estafet perjuangan. Karena kalau bukan pemuda, siapa lagi yang mau melanjutkan keutuhan bangsa dan negara?

Sebagaimana kita ketahui, pemuda sekarang tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan pemuda terdahulu. Baik itu dari segi kebiasaan, sikap, ataupun cara berpikir. Dengan demikian, cara pemuda sekarang berjuang, sudah pasti berbeda jauh dengan pemuda terdahulu. 

Menurut Vodanovich et al (2010), kehidupan pemuda sekarang sangat lekat dengan teknologi, mulai dari lahir hingga dewasa ini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana pemuda ini menghabiskan banyak waktunya dengan komputer, video games, handphone, dan teknologi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian Vodanovich et al, pemuda sekarang sudah menghabiskan minimal 20.000 jam untuk menggunakan internet. Hal inilah yang membuat para pemuda sekarang dikenal sebagai penduduk asli digital.  

Hanyutnya pemuda sekarang dalam menggunakan teknologi, nyatanya sangat berdampak positif terhadap pengoptimalan potensi mereka. Sebab terpautnya pemuda dalam menggunakan teknologi, ternyata mampu memanusiakan mereka seutuhnya. Hal ini terjadi dikarenakan proses individualisasi seirama dengan lamanya pemakaian teknologi. 

Dengan demikian, nantinya pemuda sekarang akan mampu memakai teknologi sebagaimana semestinya. Menjadi makna teknologi secara hakikat, sejarah, dan fungsional. Sehingga di masa depan, pemuda sekarang dapat menemukan benang merah di antara teknologi dan perjuangan pemuda. Yang bahkan, pemuda sekarang mampu menghidupkan kembali sumpah pemuda.

Kurangnya literasi teknologi

Ironisnya, fakta penggunaan teknologi menunjukkan hasil sebaliknya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Coombes, kemampuan literasi teknologi/internet yang dimiliki pemuda sekarang hanya sebesar 30.206% untuk pengumpulan informasi, 28.705% untuk mengatur informasi, dan 25.202% untuk mengevaluasi informasi. Angka-angka ini masih terbilang kecil untuk nilai kemampuan literasi internet yang ideal. Hal ini dikarenakan pemuda sekarang masih memiliki kesulitan dalam memakai teknologi. 

Terlebih lagi, para pemuda sekarang memiliki cara berpikir untuk memperoleh hasil secara instan dan cepat. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana pemuda sekarang cenderung mencari informasi melalui google ketimbang riset ilmiah. 

Bahkan, kontribusi pemuda sekarang dalam kemajuan artikel ilmiah masih sangat minim. Menurut Koutropoulos (2011), hanya 36% pemuda sekarang di Amerika serikat yang membuat artikel blog. Dan sisa 40%-nya, hanya membuat artikel di wiki. 

Literasi teknologi

Padahal seharusnya, kehadiran teknologi mampu menjadikan pemuda sekarang sebagai pengguna aktif dunia teknologi. Tentu untuk mengatasi permasalahan ini, pemuda sekarang memerlukan kemampuan literasi teknologi yang mumpuni. Sebab pemuda yang memiliki kapasitas literasi teknologi yang baik, mampu menjadikan teknologi sebagai wadah untuk berpikir kritis. 

Dan kemampuan literasi teknologi ini, kemudian akan mengantarkan pemuda sekarang menuju tingkatan sebagai pembelajar pedadogis. Suatu status dimana pemuda dapat menyusun cara belajarnya sendiri, yang ilmunya diperoleh dari informasi yang disajikan teknologi.  
Sehingga nantinya, pemuda sekarang akan termotivasi untuk belajar dan menjadi guru bagi sekitarnya. Seperti kutipan terkenal Ki Hadjar Dewantoro yang berbunyi, “Jadikan setiap orang sebagai guru dan jadikan rumah sebagai sekolah”.

Adapun kemampuan yang diperoleh pemuda sekarang dari keaktifan dirinya di dunia teknologi, idealnya dikembangkan sebagus mungkin, sehingga mereka dapat menggunakan informasi dengan cara yang inovatif. Selanjutnya, pemuda sekarang yang kaya akan inovasi ini, akan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. 

Inovasi yang dimiliki oleh masing-masing pemuda ini kemudian digabungkan untuk menciptakan lidah api baru yang dapat menjadi terang di tengah gelapnya Indonesia. Inilah ruang pergerakan pemuda sekarang, yang bisa menjadi tonggak baru untuk keutuhan bangsa Indonesia!. (*)

***

*)Oleh: Habibah Auni, Mahasiswa Teknik Fisika UGM.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Makassar just now

Welcome to TIMES Makassar

TIMES Makassar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.