Kopi TIMES

Jumat Berkah: Minta Doa dan Mendoakan

Jumat, 23 Oktober 2020 - 06:43
91.98k
Jumat Berkah: Minta Doa dan Mendoakan Zulfan Syahansyah, Dosen Aswaja Pascasarjana UNIRA Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Bahasan Jumat Berkah kali ini adalah soal minta didoakan dan kirim doa adalah satu ajaran dalam Islam yang termuat di nas-nas agama, baik dalam Al-Qur'an, serta hadits Nabi Muhammad SAW. 

Jika ada kelompok dalam Islam yang menolak tradisi kirim doa, maka tentunya mereka salah dalam memahami hakekat ajaran dimaksud.

Bagaimana kita memahami ajaran minta doa dan mendoakan, berikut catatan yang penulis sajikan khusus dalam edisi Jum'at berkah kali ini.

Ketika sahabat Umar bin Khattab pamit ke Rasulullah untuk umroh, beliau SAW ternyata minta dido'akan, seraya bersabda: "asyriq ni fi du'aika" (do'akan saya, ya). Hal ini lantas menjadi tradisi umat Islam hingga saat ini: setiap kali ada saudara, sahabat atau handaitolan yg akan berangkat ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji atau umroh, kita dianjurkan bertamu dan minta dido'akan.

Realita bahwa rasulullah minta dido'akan kepada sahabat adalah pelajaran yang pembahasannya bisa dijelaskan dari banyak aspek. Tapi disini, penulis hanya ingin mengatakan kalau tradisi ini sebenarnya menjelaskan bahwa minta dido'akan, mendo'akan, dan pastinya kirim doa adalah satu paket ajaran dari rasulullah. Paket doa ini penulis istilahkan: Three in one Doa.

Ketika Nabi minta dido'akan oleh Umar, pastinya dia akan mendoakan beliau SAW. Dan ketika Umar mendoakan Nabi, itu artinya dia mengirim doa untuk beliau. 

Sampai disini, kita patut menyesali jika masih ada saja muslim yang menyangsikan ajaran kirim doa? 
Bukan kah ini merupakan ajaran langsung dari Rasulullah SAW??!

Bagi muslim yang "kritis", bisa saja bertanya: adakah keterangan lanjutan hadis di atas kalau kiriman doa dari sahabat Umar itu sampai kepada beliau? 

Pada titik ini, penulis tidak berhasrat ingin tahu ada-tidanya keterangan dimaksud. Yakin kalau mengirim doa merupakan ajaran Rasul, itu sudah cukup. Penulis sama sekali tidak ingin mempermasalahkan kiriman doa itu bisa sampai atau tidak. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. 

Jika lagi-lagi si muslim "kritis" berujar: mendo'akan orang yang masih hidup, itu mungkin. Tapi untuk yang sudah mati, itu bid'ah. Tidak ada tuntunan dari rasul. Sama lah dengan pintu taubat; selama hayat masih di kandung badan, pintu taubat terbuka, namun jika sudah sakaratul maut, pintu itu tertutup. 

Untuk ujaran ini, penulis akan menjawab: justru kiriman do'a kepada yang sudah mati itu yang jelas sampai. Kalau kiriman do'a kepada yang masih hidup tidak ada penjelasan sampai atau tidak, maka kiriman do'a untuk yang sudah mati jelas keterangannya; pasti sampai. Rasulullah sendiri yang menjelaskan.

Bukankah beliau menjelaskan: "Ketika seseorang sudah mati, maka segala hal yang berhubungan dengannya saat hidup otomatis akan terputus; semuanya tidak berguna lagi. Kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do'a dari anak sholeh. 

Hadis di atas menjadi hujjah kalau doa kepada yang sudah mati itu bisa sampai.Tentang predikat kesolehan anak, sebagai prasyarat sampainya doa, bagi penulis, itu tak ubahnya prangko untuk prasyarat kirim surat via-pos. Itu wajar-wajar saja, kan. 

Yang jelas: Kirim doa untuk orang yang sudan mati itu pasti sampán. Tinggal bagaimana caranya kita bisa jadi "prangko". Selesai masalah!. Ulasan Jumat Berkah selanjutnya, bisa terus ikuti hanya di TIMES Indonesia.(*)

 

*) Penulis, Zulfan Syahansyah At-Tijani

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Makassar just now

Welcome to TIMES Makassar

TIMES Makassar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.